Breaking News

Kisah Pria Terjebak Pinjaman Online Ini Mengerikan

KOTA.CO.ID – Banyak orang yang terjebak saat kondisi keuangan rumah tangga sedang tidak baik. Salah satunya adalah terjebak pinjaman online alias pinjol. Seperti pria yang satu ini. Terjebak pinjaman online yang ternyata aplikasinya diluar dugaan. Berikut kisah pria terjebak pinjol yang viral di media sosial.

(Tulisan ini kami rapikan tanpa mengurangi maknanya)

Bermula dari keinginan memenuhi kebutuhan mendadak, entah kenapa saat itu seperti dibutakan Tetiba sore ada pesan WhatsApp masuk, menawarkan pinjaman online dengan aplikasi. Pesan itu juga memberikan link download diluar Playstore.

Mungkin karena tidak berhati-hati, ditambah adanya keperluan dan kombinasi bujukan setan dan ditambah kebodohan, maka saya install. Laiknya aplikasi peminjaman, saya diminta mengisi data diri sesuai KTP, berfoto selfi dengan KTP, mengirim foto KTP, nomer rekening dan lain-lain.

Itu semua saya lakukan tanpa berbicara dan berdiskusi dengan istri. Karena saya yakin istri pasti marah dan tidak mengijinkan.

Dalam pengisian pun, saya menggunakan nama istri dan keluarga dekat dengan nomer telepon. Setelah verikasi, saya baru bisa masuk dan melihat menunya, ternyata yang dikirim oleh pesan WA tersebut adalah aplikasi pinjol beranak.

Artinya dalam aplikasi tersebut terdapat 60 – 70 sub aplikasi dengan tenor 91 hari, 60 hari dan  paling rendah 30 hari.

Di tengah pikiran tidak jernih dan sedikit terburu-buru, saya melakukan  kebodohan atau kesalahan kedua. Saya mengklik tombol pinjaman yang tersedia di salah satu sub aplikasi senilai Rp. 1,5juta dengan tenor 91 hari.

Saya ingat, waktu itu jam 8 malam. Prosesnya sangat cepat. Sekitar 10 menit kemudian muncul sms notifikasi “Mohon Cek Rekening Pinjaman Anda Sudah Ditransfer”. Setelah saya cek di rekening, kagetlah saya karena yang ditransfer hanya Rp.760ribu bukan Rp. 1,5juta seperti yang dijanjikan.

Seketika langsung timbul niatan saya untuk mengembalikan dana tersebut dengan cara mengklik tombol pelunasan pada aplikasi. Lalu muncul Virtual Account atas nama kita untuk dipergunakan  membayar pelunasan.

Benarlah, bahwa di sub aplikasi sudah status pinjaman cair. Begitu Nomor VA dimasukan tidak bisa melakukan transfer karena jumlah yang harus dibayar adalah Rp. 1,5juta. Tidak bisa Rp. 760ribu sesuai transfer yang diterima.

Saat saya kembali ke sub aplikasi untuk melihat, betapa kagetnya saya karena tenor yang mestinya 91 hari berubah menjadi 7 hari.

Saya waktu itu masih dikuasai oleh nafsu. Akhirnya saya berkata dalam hati “Yaweslah, dipikir sesok, saiki turu sek” (Ya sudahlah. Dipikir nesok saja. Sekarang tidur dulu). Saya mencoba tidur dan merahasiakan hal tersebut dari istri.

Esoknya saat bangun pagi, saya cek HP untuk melihat notifikasi. Ternyata ada 4 pesan SMS notifikasi dengan kalimat hampir sama; “Mohon Cek Rekening, Pinjaman Anda Sudah Ditransfer” dari 4 nomer yang berbeda.

Setelah saya cek ke rekening, ada 4 transfer senilai Rp.760ribu sebanyak 3 kali dan 1 kali senilai Rp.980ribu. Begitu saya ke aplikasi terpampang ada 4 sub aplikasi yang menandai PINJAMAN CAIR.  3 aplikasi senilai Rp.1,5 juta dan satu sub aplikasi senilai Rp.2juta.

Sama seperti sebelumnya, saat saya coba melakukan pembayaran melalui nomor VA tidak bisa karena nilainya harus sesuai dengan yang tertera pada aplikasi.

Saat itu saya berpikir pendek. Itu saya lakukan karena kebutuhan mendesak dan hanya berharap semoga kedepan dapat rejeki dari sumber lain, dan jatuhlah saya pada kebodohan fatal dan mematikan.

Sampailah saya ke hari kelima atau 2 hari sebelum Jatuh tempo tiba-tiba ada transfer masuk masih berulang. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena seperti yang lalu, tidak bisa dikembalikan sesuai nominal transfer tapi sesuai dengan jumlah tertera di aplikasi.

Teror Mulai Berdatangan

Mulailah muncul WA, SMS dan telpon ke nomer HP saya 0813 xxxx 6082 yang intinya mengingatkan jatuh tempo dan sudah ada ancaman untuk menyebar data. Pesan itu mengancam sebar data ke seluruh kontak yang ada di telepon saya.

Ternyata, saat saya instal, aplikasi tersebut menyedot seluruh data kontak yang ada di HP dan gambar foto di gallery untuk kepentingan mereka.

Karena takutnya saya bahwa cerita saya ada hutang di pinjaman online maka saya berusaha menutupi pinjaman dengan cara tercela dan bodoh, yaitu pinjam lagi, lagi dan lagi. Istilahnya gali lubang tutup lobang.

Tanpa ingat bahwa semua itu adalah rentenir dengan bunga yang luar biasa berat.

Ibaratnya untuk menutup 1 pinjaman saya harus meminjam di dua aplikasi. Deret ukurnya jelas 1 dibayar 2, 2 dibayar 4 dan seterusnya. Semua itu kebodohan yang masif dan saya lakukan dengan sengaja.

Cara penagihan yang dilakukan juga sangat tidak sopan.

Satu aplikasi bisa membombardir dengan puluhan panggilan melalui WhatsApp dan ratusan pesan WhatsApp dari nomer berbeda. Tujuannya adalah membuat mental lemah hingga akhirnya menjadi takut dan membayar dengan segala cara.

Mereka menghubungi tiap kontak yang ada, bahkan memaki-maki mereka yang tidak terkait dengan pinjaman. Pinjol ini juga memfitnah bahwa mereka dicantumkan oleh saya sebagai sebagai penanggung jawab atau kontak darurat dari saya.

Saya hidup dalam ketakutan itu selama hampir dua bulan.

Setiap 3 atau 5 hari, bersiap akan caci maki yang sama untuk melunasi pinjaman yang sebelumnya, dimana saya hidup dengan kesalahan berulang melakukan gali lubang dan tutup lubang hanya sekedar untuk melunasi pinjaman sebelumnya di aplikasi pinjaman.

Hidup saya tidak enak, tidak bisa bekerja, ketakutan siang malam hingga subuh.

Pendapatan saya hampir 90 persen tersedot karena menutupi selisih pinjaman. Lagipula saya terus menerus berbohong pada istri saya. Bohong untuk menutupi kebohongan. Saya tidak mengaku bahwa saya pinjam uang secara online.

Dalam dua bulan berat badan turun  8 kilogram

Pada babak berikutnya setelah 5 minggu, polanya dirubah oleh mereka yaitu jatuh temponya menjadi 5 hari di 1 aplikasi indukan. Mulailah ada ketakutan dan keletihan. Pusing berkelanjutan mikir dari mana uangnya untuk membayar.

Mulailah terdapat keterlambatan bayar 1 atau 2 hari. Karena terlambat, mereka mulai menyebar data kemana-mana. Bahasa yang mereka gunakan sudah bisa dipastikan adalah “maling, pencuri, pelaku pencurian uang..”

Bahkan sampai ditambahi awalan depan binatang. Telepon WA dan biasa ke kontak dengan menyebut sebagai Kontak Darurat yang dicantumkan oleh saya (mohon maaf apabila ada yang sudah ditelepon dan di WA, jangan dibalas, ignore saja atau blok). Bahkan sampai ada yang menyebut ibu saya sebagai  pelacur. Maaf.

Saya menyerah

Saya memutuskan untuk melawan. Menghentikan semua kebohongan saya. Saya mulai bicara jujur pada istri saya yang sebenarnya sudah curiga karena sifat saya yang berubah 180 derajat.

Saya jujur tentang semua ini.  Istri shock? Iya. Marah? Betul.

Saya harus siap karena semua berawal dari saya dan bukan orang lain. Sekarang kami sedang cooling down.

Saya akui rumah tangga saya retak karena kebodohan saya.

Bagaimana dengan kontak saya? 2634 kontak dari HP sejak tahun 2001 saya disadap dan data saya disebar keseluruh kontak tanpa ampun dengan istilah maling, pencuri dan aneka makian lainnya.

Saya tidak bisa berharap mereka bisa maklum tapi saya hanya bisa minta maaf dan saya pastikan tidak pernah mencantumkan nomer kontak mereka sebagai kontak darurat saya dan saya memang tidak berhak melakukan itu.

Saya sekarang dalam proses memperbaiki dengan bernegosiasi untuk membayar pokok pinjaman, melalui WA dengan mereka, melapor ke OJK melalui email dan menyusun bukti melalui screenshoot WA.

Untuk kasus perihal menyebar data saya, mengintimidasi dan melakukan penghinaan saya sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan mengumpulkan bukti-bukti. Juga berkonsultasi dengan beberapa pakar TIK untuk melakukan pelacakan. Dasar hukumnya di Pasal 27 (3) UU ITE yakni menyebar data tanpa ijin.

Perlahan saya mulai bayarkan satu persatu yang memang tagihan saya dengan menjual aset yang saya miliki karena ada aplikasi yang saya tidak pinjampun ikut meneror tagih ke saya.

Apakah saya menikmati hasil pinjaman? Tidak.

Karena semua tersedot kesana, bahkan saat orang tua saya kesulitan karena terdampak banjir saya hanya bisa membantu dengan cara meminjam pribadi ke beberapa sedulur Kagama disini. Itu memang saya gunakan  ke orang tua di Pekalongan.

Saya hanya berpesan kesedulur semua, jangan sampai ikut kebodohan saya dengan terlibat dengan Pinjaman Online yang ilegal seperti saya.

Tolong, agar tidak terjebak dengan satu klik mematikan dan akan berakibat panjang dan kadang tidak bisa berhenti.

Ini bukan minta pembenaran atas tindakan saya hanya minta didoakan agar dapat melalui semua ini dan menata hidup baru yang lebih baik kedepannya.

Mohon maaf sekali lagi apabila ada yang sudah terkena dampak dari kebodohan saya, entah melalui SMS, WA, Telepon WA atau panggilan telepon.

——

About Aqeel Hamizan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *